Mas Papat Bandar Gula…

Ini sebuah kontemplasi, mungkin. Sebuah momentum perenungan diri, saat jiwaku bisa kulepas dengan bebas. Ya, aku berada di Cimerak, Ciamis (yang tak lama lagi akan segera menjadi bagian dari Kabupaten Pangandaran) tepatnya di rumah sepupu, puterinya Wa Inah (kakak dari ayahku almarhum). Ada perbedaan memang, saat aku berada jauh dari rumah, jauh dari komunitas biasanya di sekitar tempat tinggalku, lepas dari rutinitas yang kadang terasa menjemukan. Ada rasa damai lain yang hadir dalam diri, jiwaku berpetualang bebas.

Dunia ini luas. Ya, yang menjadikan sempit sebenarnya adalah pikiran itu sendiri. Ada banyak hal yang bisa kulihat, kudengar dan kupelajari dari apa yang bisa kutemukan jauh dari komunitasku selama ini. Akan ada banyak motivasi baru, inspirasi menyegarkan dan semangat yang menggelorakan dari sebuah perjalanan, juga dari sebuah pembicaraan.

Mas Papat, suami dari sepupuku bercerita tentang banyak hal, tentang perjalanan hitam hidupnya hingga tentang skenario yang Allah berikan untuknya hingga bisa sukses sebagai petani atau pengusaha gula seperti saat ini. Kisah kelam tak selamanya menjadikan hidup kian runyam, banyak yang bisa membalikkannya menjadi sejarah yang berkesan, bernilai positif dan menghasilkan kemanfaatan untuk banyak orang. Mas Papat telah melakukannya dan itu semua adalah nyata.

Ada kebetulan yang mengejutkan sekaligus menguatkan buatku. Itu tak lain terkait dengan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh Mas Papat, nyaris semuanya sama dengan yang selama ini kupegang dan kuajarkan pada isteriku dan anak-anakku. Tentang bagaimana membangun aset, mengelola alur keuangan, dengan berkorban demi masa depan atau tentang bagaimana rela hidup prihatin (kata lainnya; di bawah sederhana) sekaligus bertahan dalam kesederhanaan tersebut sebagai salah satu tahapan untuk menjemput kehidupan yang lebih baik.

Tak ada kata bersenang-senang sebelum sukses terwujudkan, jangan terburu-buru menikmati hasil yang didapati, jika aset yang mengalirkan rezeki belum dimiliki. Begitulah faktanya, Mas Papat yang aslinya dari Kebumen, sebagai petani pendatang baru di daerah itu, rela menukar waktunya dengan kerja keras membangun aset dari nol. Berawal dari sepetak tanah sewaan, jadi dua petak, tiga dan seterusnya, hingga akhirnya bisa memiliki tanah sendiri. Tak ada waktu untuk bersantai, paling tidak untuk sementara, begitu fikir Mas Papat. Saat di mana orang kebanyakan menghabiskan waktunya dengan aktivitas atau pun hobi yang kurang produktif, Mas Papat bekerja nyaris siang malam menggarap tanah dan kebunnya.

Pada kesempatan lainnya Teh Enih, isteri Mas Papat mengisahkan bagaimana suaminya memperlakukannya dengan sangat berbeda bahkan bisa dibilang sedikit kejam. Teh Enih harus menggarap sawah sendirian, membiasakan diri bergelut dengan lumpur dan juga panas-panasan, hingga sawahnya benar-benar menghasilkan, sebuah pekerjaan yang memang tak lazim dilakukan oleh perempuan lain di kampungnya. Bertahun- tahun Mas Papat dan isterinya bekerja keras mengurus kebun dan sawahnya, dalam waktu yang sama juga mesti bersabar dengan pandangan, omongan bahkan cibiran orang lain yang menganggapnya berbeda dengan orang kebanyakan.

Singkat cerita, bermodalkan pohon-pohon kelapa yang ada di kebunnya dan hasil pertaniannya yang lain, Mas Papat kemudian bisa memproduksi gula. Jika awalnya hanya mengandalkan hasil produksi sendiri untuk kemudian dijual ke bandar, sekarang justeru Mas Papat sendiri sudah menjadi bandar dan menampung gula-gula hasil olahan para petani lainnya. Begitulah, roda kehidupan selalu berputar, pengorbanan waktu, tenaga, rasa dan lain-lainnya yang telah diinvestasikan Mas Papat dan isterinya akhirnya berbuah manis. Rumah, kendaraan, kolam ikan dan kekayaan lainnya yang dimilikinya saat ini adalah wasilah dari kerja keras, pengorbanan dan kesabarannya dalam berproses menuju sukses. Semoga itu semua bisa bermanfaat untuk dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama tentunya.

Motivasi dari kisah perjuangan dan kesuksesan inilah yang sebenarnya kuharapkan selalu hadir di setiap langkah-langkahku saat ini, pada peran yang sedang kujalani, yang meski pun medan perjuangannya berbeda dengan Mas Papat tapi inspirasi itu benar-benar sangat berarti. Aku tidak sendiri, ini setidaknya yang bisa disimpulkan dari perjalananku kali ini. Kengototanku untuk tidak mau jadi pegawai, ketidakmauanku untuk memprioritaskan bantuan birokrasi pemerintahan, antipatiku terhadap modal pinjaman bank, itu menjadi beberapa poin yang juga dipegang oleh Mas Papat. Ada perjuangan, ada tantangan dan ada kerja keras, ada keberhasilan. Sukses!

Ditulis di Catatan Harian Sang Pemasar pada Hari Rabu, 27 Februari 2013

__________

Catatan tambahan: Jika Mas Papat sudah jadi bandar gula maka penulis harus terus didukung jadi bandar sandal… 😀 😀 semoga saja, aamiin. Lihat GUDANG SANDAL klik di sini…