Ikhtiar Salah, Rezeki Tak Berkah

SEBAGAI manusia yang diberi akal dan pikiran, dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Salah satunya dalam mencari rezeki. Memang yang memberi rezeki itu pada dasarnya oleh Allah SWT, namun kita harus bisa mencarinya. Karena Allah SWT tidak akan memberikan rezeki itu kepada kita secara cuma-cuma.

Untuk mendapatkan rezeki tentu kita harus berikhtiar, artinya berusaha untuk memperoleh rezeki. Cara yang digunakan pun itu diserahkan kepada kita. Hanya, kita harus tahu batasan-batasannya. Tentunya kita harus berikhtiar dengan tidak mengesampingkan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan.

Sebagai nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW selalu memakai cara-cara yang sangat alamiah, sangat manusiawi, bisa diteladani dan bisa diteruskan. Ini bedanya Nabi Muhammad dengan nabi-nabi terdahulu. Ini beberapa ikhtiar yang beliau lakukan:

– Demi menjadi panglima perang yang berhasil, Nabi Muhammad berlatih, bersiasat dan berjuang. Bukan menghidupkan orang mati.
– Demi menjadi kepala negara yang berhasil, Nabi Muhammad berempati, bervisi, dan bersinergi. Bukan memerintah jin.
– Demi menjadi pendakwah yang berhasil, Nabi Muhammad mengadakan percakapan dengan umatnya. Bukan membelah lautan.
– Demi menjadi pedagang yang berhasil, Nabi Muhammad menjaga mutu, menjaga amanah, dan menjaga janji. Bukan meramal melalui mimpi.

Herannya, sebagian kita malah merindukan guru-guru yang memakai cara-cara yang tidak alamiah. Mereka yang dianggap guru-guru itu pun mengaku diri mereka paranormal, ustadz, kyai dan syeikh. Yah, cuma ngaku-ngakunya, padahal bukan. Katakanah mereka mampu menerawang suatu kejadian tanpa melihat langsung. Mereka juga dapat menebak masa lalu atau masa depan seseorang. Mereka pula dapat menembus sesuatu, menghilangm kebal atau sakti. Anda pun disarankan untuk menempelkan kertas atau kain yang bertuliskan ayat-ayat. Konon, ini dapat melariskan usaha, menolak bala, memikat orang atau yang semacamnya.

Sekilas, semua ikhtiar tersebut tampak sangat Islami. Namun pertanyaannya, pernahkah nabi dan sahabat melakukannya? Memang kita tidak dapat serta merta menyalahkan mereka yang memakai cara-cara yang tidak alamiah tersebut. Hanya saja, dapat dikatakan bahwa di sana sudah muncul keragu-raguan (syubhat).

Mungkin saja ada makhluk lain atau kekuatan lain yang bermain. Agama mengajarkan dan menganjurkan, kalau ada sesuatu yang meragukan, maka tinggalkan Pilih yang pasti! Cukuplah kita belajar pada guru-guru yang ‘biasa-biasa’ saja. Asalkan mereka teruji ilmu, amal dan akhlaknya.

Kalau pun sesekali Nabi pernah meramal suatu kejadian, itu semata-mata karena wahyu dengan izin Allah. Lantas bagaimana pula dengan ramalan shio, zodiak dan SMS premium di sekitar kita? Hal tersebut dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tampaknya main-main, namun sebenarnya mempermainkan iman. Tampaknya sepele, namun sebenarnya menyepelekan iman. Maka, lebih baik ditinggalkan.

Lakukanlah ikhtiar yang alamiah saja, yang sebagaimana mestinya. Berikhtiar dengan kemampuan dan tekad yang kuat yang Anda miliki. Dengan begitu Anda akan merasakan sendiri kepuasan yang berbeda. Apalagi saat Anda dapat memperoleh rezeki dari hasil jeri payah Anda sendiri. Sungguh menjadi kebanggaan yang amata sangat luar biasa, yang tak kan pernah Anda lupakan sepanjang hidup Anda.

Gapailah rezeki Anda. Jangan biarkan rezeki itu beralih ke tangan orang lain. Jemput rezeki Anda dengan ikhtiar yang baik, yang sesuai dengan ajaran Islam dan sama seperti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Karena bisa jadi, jika Anda mencari rezeki dengan jalan yang bukan seharusnya, artinya tidak dengan usaha Anda sendiri, rezeki yang diperoleh itu tidak mengandung berkah bagi diri Anda sendiri. Wallahu ‘alam.

Sumber: islampos.com – Percepatan Rezeki dalam 40 Hari dengan Otak Kanan/Karya: Ippho ‘Right’ Santosa/Penerbit: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia