Beli Indonesia Adalah Karakter Bangsa

Jatuh bangun dalam menjalani usaha menjadi titik penting bagi Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), Heppy Trenggono. Dua kondisi ekstrem telah dialaminya. Dia pernah merasakan terpuruk dengan utang yang menumpuk. Hidupnya diburu para penagih utang. Namun, keadaan ini menjadi pendorong utama yang membuatnya bangkit. Jalan hidup seperti ini, kemudian membuat Heppy tak pernah sungkan untuk membantu siapapun yang terpuruk untuk bisa bangkit. Ekonomi Indonesia termasuk makhluk yang dia bela untuk bangkit. Melalui gerakan berlabel “Beli Indonesia”, dia gigih mendorong masyarakat untuk mencintai produk bangsa sendiri.

Gerakan Beli Indonesia dicanangkan dalam Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) pada 26 Juni 2011 di Solo, Jawa Tengah. Kini, dalam setiap kesempatan, Heppy mengampanyekan Gerakan Beli Indonesia. Tahun ini, Heppy dan tim menggelar Serangan Umum Beli Indonesia di tujuh kota, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Pekalongan, Pekanbaru, Lampung, dan Yogyakarta, untuk membeli produk-produk dalam negeri.

Heppy mengisahkan perjalanan menjadi pengusaha, mendirikan IIBF, dan mencanangkan Gerakan Beli Indonesia kepada wartawan Republika, Zaky Al Hamzah, Indah Wulandari dan fotografer Aditya Pradana Putra, di rumah dan kantornya, Jakarta, belum lama ini.

Siapa yang pertama kali mengenalkan dunia bisnis?
Kalau bicara tentang berdagang, saya itu dibesarkan dari ibu yang seorang pedagang, sedangkan bapak saya PNS di Batang, Jawa Tengah. Sejak kecil, tepatnya kelas dua SD, saya sudah berjualan, saya pernah jualan garam, sedangkan ibu jualan kelontong, pernah juga ibu jualan pakaian, kain, sprei. Kadang-kadang saya membantu ibu berjualan di toko atau pasar. Saat berjualan saya merasakan bagaimana nikmatnya dapat duit. Tapi, banyak yang mencibir, termasuk guru saya. Jualan saat itu bisa dibilang aneh di kalangan masyarakat. Tapi, saya tetap saja jualan. Bahkan, saya ingat, waktu Pemilu 1977, saya manfaatkan jualan permen. Pada usia tujuh tahun, ibu wafat. Saya sedih sekali. Kemudian, bapak menikah lagi. Kami menjadi keluarga besar, saya bersama empat saudara kandung dari bapak, ditambah empat. Di situlah kehidupan saya dan saudara sempat sengasara karena tidak ada uang. Ketika masih ada ibu, kami tidak kekurangan karena kebutuhan hidup bisa dibiayai oleh ibu. Karena itu, ketika ibu tidak ada kami kekurangan.

Perjalanan hidup Anda yang penuh perjuangan itu menjadikan Anda berhasil mendirikan Balimuda?

Selepas SMA di Pekalongan tahun 1987, saya kuliah Akademi Bahasa ambil jurusan bahasa Jerman, sambil bekerja di sana. Mentor saya mencibir, karena meski dia menguasai bahasa Jerman tapi dia mengaku tak jadi apa-apa. Tahun 1989, saya melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan dan akhirnya diterima di PT United Tractor (UT ), perusahaan yang bergerak di bidang penjualan berbagai jenis alat berat, seperti buldozer, excavator, dan farm tractor. Saya ditempatkan di divisi yang menangani electronic data processing (EDP), kalau sekarang sebagai TI. Pekerjaannya tak jauh dari mengurus hal-hal yang terkait dengan komputer dan teknologi informasi. Dari UT saya kemudian pindah kerja di Lativi (kini TVOne) hingga jabatan terakhir Direktur Teknik. Di sela-sela pekerjaan, pada 2002, saya mendirikan PT Balimuda Persada. Saya tertarik bisnis ini karena kakak perempuan saya sudah sukses duluan. Karena saya masih sibuk di Lativi, kalau ada kontrak-kontrak saya subkan kepada kakak. Awalnya, Balimuda menangani proyek pembukaan lahan (land clearing) perkebunan sawit. Tahun 2003, saya dapat kontrak beberapa perusahaan, seperti Pradiksi dari Malaysia. Saya dapat pinjaman dari Bank Niaga sebesar 80 persen dari total nilai proyek. Jadi, uang muka hanya 20 persen, sisanya diangsur selama 12 bulan. Semakin lama, bisnis saya melejit. Nasib baik saya berlanjut, kontrak pekerjaan sudah ratusan miliar. Pengadaan alat berat makin banyak untuk memenuhi kebutuhan proyek. Tahun 2004, bank terus mengucur kan pinjaman. Mereka pun mengusulkan, mengapa tidak dikembangkan serius. Pada Agustus 2004, saya keluar dari Lativi dan fokus jadi pengusaha, full time.

Kemudian apa yang terjadi?
Perkembangan bisnis agresif sampai over heating. Proyek banyak, tapi kapasitas saya dan sumber daya manusia belum siap. Persoalan muncul ketika banyak proyek tak dibayar, sedangkan pinjaman di bank semakin tinggi. Pada 2005, Balimuda mulai kesulitan pembiayaan. Hingga akhir 2006 saya jatuh. Tagihan tak dibayar, proyek terbengkalai, 400 karyawan tak ada kegiatan. Sebagian dari mereka keluar sebelum saya pecat. Ada yang bawa aset perusahaan sebagai ganti pesangon. Total kebangkrutan Balimuda mencapai Rp 62 miliar. Jadi, 2002 memulai dan bagus, 2003 bagus sekali, 2004 melesat hingga 2005, namun akhirnya langsung ambruk pertengahan 2005 hingga akhir 2006.

Bagaimana melunasi utang Rp 62 miliar?
Saat itu, setiap hari kantor Balimuda disatroni puluhan debt collector sampai 24 jam. Saya takut, karyawan, dan keluarga juga ketakutan. Kalau ada yang bisa dijual, ya saya jual. Tapi, sebelum saya bangkrut, kakak saya juga bangkrut sampai Rp 50 miliar. Jadi, kami berdua sama-sama merasakan kejatuhan sepahit-pahitnya. Nama saya di-black list bank, meski saya berusaha meminta perpanjangan jatuh tempo. Semua proses restrukturisasi utang sudah dilakukan. Tapi, ketika proses pengajuan utang kan harus dibayar. Duit dari mana? Sedangkan tiap hari, debt collector terus menyatroni kantor kami. Untung ada istri yang terus menenangkan. Saya, istri, dan kakak terus ikhtiar mencari solusi. Kami menemui orang-orang yang bisa diajak sharing. Ketika membaca Alquran, ada ayat yang menguatkan saya. Intinya, siapa yang shalat Subuh maka Allah akan melindungi. Sejak itu, saya berani berangkat ke kantor, meski pasti ada debt collector menagih pinjaman.

Saat terpuruk, upaya yang dilakukan apa?
Untungnya, ketika membantu perusahaan kelapa sawit, saya belajar pengembangan bisnis ini. Modalnya dari mana? Kan bank sudah tak percaya. Saya sudah keliling ke beberapa negara tetangga termasuk Arab Saudi untuk mencari investor, tapi gagal. Alhamdulillah, ada rekan yang mau sharing dana. Ternyata sumber uang selain bank deal (bank umum) ada yang namanya equity deal. Sifatnya saham atau bagi hasil bisa dengan perorangan atau institusi. Selain dari dana sendiri, dana ini bisa dari kerabat, rekan, atau orang lain yang bisa dipercaya. Dana dari equity deal ini saya gunakan untuk pengembangan bisnis kelapa sawit. Ibadah makin ditingkatkan, sedekah diperbanyak, hubungan dengan keluarga ditingkatkan, termasuk memperbaiki komunikasi dengan orang tua. Perlahan namun pasti, proposal saya yang dulu tak disetujui, saat itu disetujui. Yang dulu enggan jadi mitra, mulai membantu saya. Upaya ini bersih tanpa utang, tanpa kredit bank, tanpa riba, tanpa menggadaikan apa pun, tanpa tipu menipu. Yang pasti berkah dan tidak berisiko terhadap kelangsungan bisnis. Kalau ada uang Rp 1 miliar, yang untuk melunasi utang hanya Rp 400 juta, Rp 200 juta untuk zakat dan sedekah, dan sisanya untuk lain-lain, termasuk operasional perusahaan. Cara ini malah jadi fitnah. Punya uang kok tidak dibayar semua, malah untuk sedekah. Saya katakan, ada tanggung jawab pada orang, juga tanggung jawab pada Allah. Ada semangat bila kita memberi pada anak-anak yatim/piatu, orang miskin. Bahkan, saya kesulitan menyalurkan sedekah Rp 200 juta.

Berapa lama kondisi sulit itu berlalu?
Alhamdulillah, dalam dua-tiga tahun, sebagian utang bisa dilunasi. Kehidupan mulai normal. Sebagian kebun sawit sudah bisa dijual. Awalnya punya tujuh ribu hektare (ha), namun yang dipakai baru dua ribu ha. Perlahan, Balimuda bangkit kembali. Saya kemudian diundang, diajak sharing. Tak sedikit pengusaha yang kemudian tinggal sebentar di rumah saya, agar bisa mendengarkan kisah sukses saya, kita juga shalat tahajud dan Subuh berjamaah. Meski mereka bos di perusahaannya, mereka tak sungkan tidur di lantai, ada juga di teras dalam rumah. Para pengusaha menanyakan, bagaimana kisah sukses bangkit dari kebangkrutan. Dulu, Balimuda pernah sukses dan diliput sejumlah media. Kemudian, bangkrut, dan kini bangkit kembali. Kini puluhan hingga ratusan pengusaha datang ke rumah saya. Kebanyakan, persoalan mereka soal kejatuhan bisnis. Ada kasus pengusaha usia 26 tahun yang punya utang kartu kredit hingga Rp 80 miliar. Dia dikejar-kejar polisi. Ternyata dia terjerat skema bisnis yang membuat pengusaha cepat kaya dan melejitkan usaha dengan memutar kartu kredit. Jumlah pengusaha seperti itu ada puluhan orang. Saya prihatin sekali. Akhirnya, atas desakan kawan-kawan, dibentuklah coaching, pelatihan bisnis dengan etika seperti diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Dari situ pula kemudian digagas IIBF?
Ya. Saat itu mulai ada gagasan membentuk komunitas pengusaha yang berbasis syariah, tanpa riba. Maka, terbentuklah Indonesia Islamic Business Forum (IIBF). Tahu tidak, nama ini merupakan usulan (mantan–Red) karyawan Republika bernama Joko Santoso. Atas izin dia, komunitas pengusaha ini menggunakan nama IIBF. Dua tahun kemudian, saya dan rekan-rekan menggelar konferensi untuk men canangkan Gerakan Beli Indonesia.

Bisa dikisahkan awalnya Gerakan Beli Indonesia?
Berangkat dari rasa prihatin di kalangan masyarakat Indonesia, terlebih-lebih pada kaum muda yang notabene malu untuk membeli produk dalam negeri. Sekitar puluhan ribu pengusaha tergabung di IIBF ingin ada momentum untuk mencintai produk dalam negeri. Tidak hanya mencintai, tapi juga memproduksinya. Di Indonesia hari ini, pembangunan karakter maupun cinta produk Indonesia hanya sebatas seminar serta seremonial dalam pidato, tetapi tidak di lapangan dan masyarakat. Meredupnya pembangunan karakter membuat bangsa ini lupa pada jati dirinya, tidak memiliki keyakinan diri sebagai bangsa besar dan jaya seperti bangsa lain. Parahnya lagi tidak memiliki nilai-nilai yang jelas untuk dibela. Hampir semua komponen bangsa ini sudah tidak lagi membangun karakter tetapi terseret pada pembangunan brand atau citra.

Mengapa gerakan Beli Indonesia yang dideklarasikan?
Dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, artinya Indonesia adalah sebuah negara luar biasa besar. Bangsa lain di dunia ingin Indonesia menjadi konsumennya. Sekaligus negara kita ini ditakuti bangsa lain kalau bisa menjadi produsen. Seperti Cina yang produknya membanjir di mana-mana karena memanfaatkan potensi satu miliar lebih penduduknya. Kemudian, saya juga mengamati ternyata produk di negara kita sebagian besar bukan produk sendiri. Dulu saat kita berutang ke IMF hanya Rp 200 triliun. Bandingkan saat ini dengan produk-produk asing yang masuk dan satu perusahaan menghasilkan Rp 200 triliun. Itu luar biasa. Kemendag mengeluarkan logo cinta produk Indonesia. Kesalahannya mereka hanya bergerak di tataran promosi saja. Mereka nyatanya juga ikut andil memasukkan produk asing. Di luar itu, kalangan pejabat yang masih gemar membeli produk dari luar dan menjual BUMN. Padahal, itu mempermalukan anak cucu kita kelak. Indonesia seperti yang Presiden Soekarno bilang pada 1930, akan bertumbuh menjadi bangsa besar. Hanya kita kurang menyadari bahwa kita telah menyerahkan hampir seluruh hidup kita ke pihak asing. Bahkan, Presiden AS Barack Obama berkata jika Indonesia membuka solusi bagi 130 ribu pengangguran di AS dengan pembelian pesawat Boeing. Dari situ terlihat ternyata Pancasila sudah kita tinggalkan. Indonesia telah kehilangan karakter dan harus berubah saat ini juga. Perubahan itu muncul dari bawah seperti zaman kekhalifahan dan Rasulullah.

Tampaknya ini merupakan semangat kebangkitan?
Kalau di India dikenal Swadeshi, Satyagraha, dan Ahimsa sebagai pemantik semangat hidup merdeka sekaligus mandiri bagi rakyat India. Begitu juga dengan Soekarno, mengobarkan kata merdeka, hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan rakyatnya bangga. Kini, kami di IIBF ingin ada kalimat pembangkit dan itu adalah Beli Indonesia. Kalau hanya masalah strategi, kita bisa meniru Cina, Jepang, Amerika, dan bangsa-bangsa maju lain untuk membangun Indonesia. Tetapi, semuanya tidak berjalan di Indonesia, karena ada sesuatu yang hilang pada bangsa ini. Sesuatu itu adalah karakter. Beli Indonesia itu karakter bangsa. Beli Indonesia merupakan tema membangun karakter bangsa ini. Karena, di dalam gerakan itu terdapat tiga sikap perjuangan. Pertama, membeli produk Indonesia. Membeli produk bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, melainkan karena milik bangsa sendiri. Kedua, membela Indonesia. Membela martabat bangsa, membela kejayaan bangsa. Ketiga, menghidupkan semangat persaudaraan. Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku dan kita ada untuk saling menolong. Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang jaya bukan karena militer atau jumlah penduduknya, tetapi diperhitungkan dari tingkat perekonomiannya. Untuk itu mulai sekarang mentalitas sebagai wirausaha perlu dibangkitkan di kalangan generasi muda. *** ed: anif punto utomo

Sumber: beliindonesia.com